Sudahkah Kamu Mengucap Syukur?


"Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia." (Roma 1:8)

"Anak-anak, apa arti mengucap syukur?" Sebelum pertanyaan itu dijawab, saya sering kali menjawabnya dengan cepat, "Mengucap syukur itu artinya berterima kasih!" Itulah cara saya mendefinisikan mengucap syukur ketika pertama kali mengajar di Sekolah Minggu. Hingga hari ini, setelah hampir 11 tahun, definisi itu tetap sama di benak saya.

Mengucap syukur berarti berterima kasih atas apa yang telah kita terima, dan ucapan terima kasih tersebut kita sampaikan kepada Allah sebagai sumber segala sesuatu dalam hidup kita. Meski ada yang menganggap bersyukur kepada Tuhan itu tidak masuk akal karena mereka percaya semua yang mereka miliki adalah hasil jerih payah mereka sendiri, namun pandangan ini sesungguhnya menjerumuskan mereka dalam kutukan (Yeremia 17:5).

Paulus mengajarkan kepada kita tentang ucapan syukur yang berkualitas. Mengapa berkualitas? Alasan pertama adalah: ucapan syukur kita kepada Allah menjadi tindakan pertama yang kita lakukan dari segala hal yang mungkin kita kerjakan. Sekalipun banyak yang bisa Anda lakukan, Anda memilih untuk mengucap syukur terlebih dahulu. Hal ini mengajarkan kita bahwa ucapan syukur harus menjadi tindakan prioritas.

Mungkin saat ini Anda menghadapi kesulitan, kesusahan, atau penderitaan. Apapun situasinya, Anda harus mengucap syukur terlebih dahulu. Paulus melakukan hal yang sama ketika dia berkata, "Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus." Kata "pertama-tama" menunjukkan bahwa Paulus menjadikan ucapan syukur sebagai prioritas dari semua yang bisa dia lakukan.

Alasan kedua adalah ucapan syukur yang berkualitas terlihat dari untuk siapa kita bersyukur. Paulus tidak mengucap syukur atas dirinya sendiri, atas apa yang dia alami, atau apa yang dia terima. Sebaliknya, dia mengucap syukur atas apa yang dialami oleh orang lain, yaitu jemaat Roma. Dia berkata, "Aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian..." Paulus bersyukur kepada Allah karena apa yang Allah telah lakukan dalam hidup jemaat Roma. Bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita sering mengucap syukur kepada Allah atas orang lain dalam doa kita? Saudara kita, rekan kerja, tetangga, atau atasan kita. Pernahkah kita berpikir untuk bersyukur atas apa yang terjadi di gereja kita, jemaat kita, dan komunitas kita? Bukankah semua itu cukup menjadi alasan untuk tidak hanya mengucap syukur atas diri sendiri?

Alasan ketiga adalah ucapan syukur yang berkualitas terjadi ketika kita berterima kasih kepada Tuhan bukan hanya karena menerima hal-hal materi, tetapi juga hal-hal non-materi. Kita bersyukur bukan hanya karena hal-hal fana seperti rumah baru, kendaraan baru, gaji, kesehatan, sepatu, dan baju baru, tetapi terlebih lagi karena hal-hal rohani yang kita terima dari Allah.

Paulus berkata, "Sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia." Dia bersyukur karena iman jemaat di Roma telah tersebar dan menjadi berkat serta kesaksian bagi banyak orang. Banyak orang telah mengenal Kristus melalui kesaksian iman jemaat Roma. Atas hal tersebut, Paulus mengucap syukur kepada Allah. Pernahkah kita bersyukur atas iman yang Tuhan anugerahkan kepada kita? Bersyukur atas kasih karunia Tuhan, pengenalan akan Tuhan, hikmat yang kita terima setiap hari, serta kemampuan, talenta, dan karunia yang kita miliki. Semua itu adalah berkat rohani yang menjadi dasar dari semua berkat lahiriah yang kita terima.

Demikianlah ciri-ciri ucapan syukur yang berkualitas yang kita pelajari dari hidup Rasul Paulus. Marilah kita hidup dengan ucapan syukur terus menerus, karena dalam mengucap syukur terdapat kekuatan Allah yang nyata. Amin.

Posting Komentar

0 Komentar